Tugas X Apresiasi Puisi Indonesia

Sebelah Sayap

Aku berjelaga melawan arus angin menuju Timur

Padahal untukku dan mereka Baratlah bulat sempurna

Butakah aku akan fananya lembah hitam tinggi pucat

Ataukah menyeberangi dua samudera berair pekat dengan sebelah sayap takkan pernah sempurna

 

Patut aku menyalahkanmu, bukan?

Kau dengan gamblangnya mengucap pisah hingga mati

Kau dengan entengnya menitipkan benteng pertahanan untuk kuperjuangkan

Kau dengan acuhnya mengiris sebelah sayapku, tanpa cemas aku tak pernah terbang sempurna lagi….

 

Malaikat bersebelah sayapmu itu kini telah mati

Bukan mati raga, Ketidaksempurnaan sayap yang kupaksakan sempurna matikan jiwaku

Kudengar bisik-bisikan Tuhan lalu kutatap nanar merah darah berceceran di sudut-sudut jagat bentengku,

Raung-raungan hatiku memelasmu mengiris lagi sebelah sayap tersisa ini

Maaf….

 

Kecewa

Kecewa lahir dari rahim pengharapan,

Pengharapan indah yang tinggi.

Tiba tingginya harapan oleh usaha,

Tenggelam jatuh ke dasar hingga harapan tinggal kenangan.

 

Kecewa berenkarnasi

Berenkarnasi menjadi bertubi anak-anak kegagalan

Gagal harfiahnya adalah obat kecewa

Ketika harapan tinggal kenangan, gagal dan kecewa akan lahirkan bara pacu semangat

Tugas IX Apresiasi Puisi Indonesia

Ketika Kau Bilang Cinta

Alun sealun dentingan pianomu mulai merasuki relung hati yang redup ini

Nada senada nyanyian hatimu juga mulai meracuni otakku

Kata sekata janji-janji dari mulut manismu menggetarkan nadi-nadiku

Lalu kau bilang cinta padaku

Ragu bimbang, aku takut

Lalu kau lanjutkan mendentingkan tuts pianomu

Jantungku keram

Lalu kau bujukku lagi dengan rayu-rayuanmu

Jalan pikiranku membuntu, tak ada lagi jalan keluar

Lalu aku katakan iya

Dan lututku sepertinya tak bersanding lagi di tempurungnya

 

Puisi Sedihku

Melenggang di senja kala

Lintasi permadani jingga pahatan Sang Maha Indah

Hati terenyuh haru biru

Terkenang kenang-kenangan kala langit terasa tak akan pernah hitam

Kita hanya mengenal birunya

Aku mengandaikan dirimu di hadapanku

Namun yang ku genggam hanya rasa sakit itu lagi

Sakit yang tak berobat

Sakit yang tak terlupa

Sakit sebab tersadar takkan pernah ada kamu lagi di sini, sayang

Tugas VIII Apresiasi Puisi Indonesia

  1. Ciri-ciri diksi Amir Hamzah pada empat puisinya yang berjudul Padamu Jua, Hanya Satu, Hanyut Aku, dan Doa Poyongku, yakni Amir Hamzah menggunakan kata kekasihku. Pada keempat puisinya tersebut, Amir Hamzah seolah-olah menujukan puisi-puisinya pada seseorang yang mungkin memang merupakan kekasih hatinya atau orang-orang yang ia cintai. Amir hamzah juga banyak menggambarkan perasaan-perasaan rindu melalui diksinya. Terkadang ia malah menyebutkan kata rindu itu secara gamblang di dalam puisinya. Amir Hamzah seolah-olah ingin menyampaikan bahwa ia sedang menanti seseorang yang ia cintai pada keempat puisinya tersebut.
  2. Ciri-ciri diksi Taufik Ismail pada empat puisinya yang berjudul Jalan Segara, Karangan Bunga, Sebuah Jaket Berlumur Darah, dan Syair Orang Lapar, yakni Taufik Ismail sering menggunakan kata-kata yang menggambarkan suasana duka/kematian. Sebagian besar dari diksi-diksinya menggunakan kata-kata pemakaman, duka, anak, maupun tirani. Taufik Ismail sepertinya mengeritik pemerintah atau aparat keamanan yang menyebabkan kematian mahasiswa yang berdemo atau menolak kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah. Protes-protesnya itu lalu ia sampaikan melalui puisi-puisinya.
  3. Ciri-ciri diksi Chairil Anwar pada empat puisinya yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela, Cintaku Jauh di Pulau, Senja di Pelabuhan Kecil,dan Aku Berada Kembali, yakni Chairil Anwar banyak menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan laut. Ia menggunakan diksi laut, pantai, ombak, semenanjung, dan perahu pada keempat puisinya tersebut. Terkadang diksi yang digunakan penyair di dalam puisinya bisa menggambarkan latar belakang kehidupan penyair. Hipotesisnya bahwa Chairil Anwar mungkin saja pernah tinggal atau mendatangi pantai atau laut yang kemudian banyak memberinya inspirasi untuk menulis puisi. Keempat puisi Chairil Anwar juga banyak menggunakan diksi yang menggambarkan keadaan malam, misalnya menggunakan kata  malam, bulan, dan tidur. Jadi, diksi-diksi yang digunakan Chairil Anwar pada keempat puisinya tersebut menggambarkan pengharapan.
  4. Ciri-ciri diksi W.S. Rendra pada empat puisinya yang berjudul Sajak Sebatang Lisong, Sajak Orang Lapar, Sajak Pertemuan Mahasiswa, dan Aku Tulis Pamplet Ini, yakni Rendra suka menggunakan kata sajak pada judul puisinya. Hal ini berarti Rendra banyak menempatkan diri menjadi seorang penyair di dalam puisi-puisinya. Puisi-puisi Rendra menggambarkan protes dan kritiknya terhadap pemerintah dengan menggunakan diksi pengangguran, kelaparan, bangsa, dan rakyat. Rendra sinis terhadap masalah-masalah yang dihadapi bangsanya dan seolah-olah pemerintah menutup mata akan semua hal itu.
  5. Ciri-ciri diksi yang sering saya gunakan di dalam puisi-puisi saya yang berjudul Senjaku, Lima Tahun Silam Saat Hujan Turun, Menunggumu, dan Keluhan Malam, yaitu saya sering menggunakan diksi jarak, menunggu, rindu, dan penantian. Diksi-diksi pada keempat puisi saya menggambarkan penantian seseorang yang dipisahkan oleh jarak. Diksi-diksi itu menggambarkan kerisauan dan kekalutan hati saya yang sedang menanti seseorang.

Tugas VII Apresiasi Puisi Indonesia

Rintihan Orang Kecil

Marah.

Darah.

Lukah.

Di kantung-kantung kering pemiskin papah

Nyeri.

Hati.

Dewa-Dewi.

Dikikis penikmat dan pendosa tanah pijak ini

Mereka rakus jadi-menjadi

Kaya mengaya

Larat melarat

Mana merdekaku? Merdeka kami! Merdeka mereka!

Kalian dan bermilyar-milyar janji kalian, penyiksa kuburmu semoga.

Biar aku meratapi jejak-jejak sepatu mahal kalian hingga perut kenyang,

Biar aku meringisi serpihan gelas-gelas rumah kalian hingga dahaga hilang,

Pasrah aku, kafan akan membalas di liang baka rintihan kami.

Analisis Penyimpangan Bahasa:

Puisi “Rintihan Orang Kecil” di atas memiliki penyimpangan leksikal, yaitu papah, dikikis, merdekaku, dan nyeri. Penyimpangan semantis, yaitu pada frasa kantung-kantung kering, pada kata dewa-dewi, pada kata gelas-gelas, bermilyar-milyar, dikikis, dan pada kata baka. Puisi tersebut juga memiliki penyimpangan fonologis, yaitu pada kata lukah yang seharusnya luka. Selanjutnya puisi ini juga memiliki penyimpangan morfologis, yaitu kata pemiskin, jadi-menjadi, mengaya, dan meringisi. Adapun penyimpangan sintaksis, yaitu pada kalimat Merdeka kami! Merdeka mereka! yang merupakan kalimat pertanyaan harusnya menggunakan tanda tanya. Pada kalimat penyiksa kuburmu semoga juga seharusnya menjadi semoga hal itu akan menyiksamu di kubur. Harus memiliki pola yang lengkap, yaitu subjek , predikat, dan objek jika digunakan dalam bahasa Indonesia yang baku. Begitupun pada kata pada kata-kata marah, darah, luka, dan nyeri, hati, dan dewa-dewi yang diakhiri tanda titik padahal belum memiliki pola yang lengkap. Terakhir, penyimpangan grafologis yakni dapat dilihat jelas bahwa sistem penulisan puisi di atas menyimpang dari penulisan-penulisan karya ilmiah yang mengharuskan adanya paragraf-paragraf yang diisi beberapa kalimat untuk menyatakan gagasan.

Salah Teori

Teorimu tentang cinta memabukkepayangkanku

Kau bilang kau cinta selamanya padaku

Teorimu tentang rindu menggetarkan dadaku

Kau bilang rindu simbol sayangmu padaku

Teorimu tentang cemburu membutakan hatiku

Kau bilang cemburu membumbui cintamu padaku

Akh!

Teori hanya teori,

Aku mencintaimu.

Aku merindukanmu.

Aku mencemburumu.

Aku tersesat lalu karena teorimu punya syarat ketentuan

Aku terhenti di kamu

Dan kamu tarik jari-jemarimu perlahan dari genggamanku

Akh!

Teori hanya teori

Aku harusnya tak cintamu.

Tak jua rindumu.

Lebih-lebih cemburuimu.

Analisis Penyimpangan Bahasa:

Puisi “Salah Teori” di atas memiliki penyimpangan leksikal, yaitu pada kata memabukkepayangkan dan membumbui. Puisi di atas juga memiliki penyimpangan semantis, yaitu pada kata teori, menggetarkan, membumbui, tersesat, terhenti, dan frasa syarat ketentuan. Adapun penyimpangan fonologis puisi tersebut, yakni tak cintamu yang seharusnya tidak mencintaimu dan tak jua yang seharusnya tidak juga. Selanjutnya, penyimpangan morfologis, yaitu memabukkepayangkan dan mencemburumu. Penyimpangan sintaksis, yaitu pada kalimat aku tersesat lalu yang seharusnya lalu aku tersesat pada bahasa Indonesia yang baku. Pada kalimat kau cinta selamanya padaku seharusnya menjadi kau cinta padaku selamanya. Terakhir penyimpangan grafologis, yakni dapat dilihat jelas bahwa sistem penulisan puisi “Salah Teori” menyimpang dari penulisan-penulisan karya ilmiah yang mengharuskan adanya paragraf-paragraf yang diisi beberapa kalimat untuk menyatakan gagasan.

Perjalanan Hidup Seorang “Burung Merak”

Julukan burung merak tampaknya memang pantas disematkan untuk seorang Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang selama kita kenal sebagai W. S. Rendra. Karya-karya sastranya yang memukau membawanya tersohor hingga ke mancanegara. Ada baiknya sebelum kita mengapresiasi karya-karya sastra seorang W. S. Rendra, kita mengenal dulu latar belakang kehidupan Rendra.

W.S. Rendra dilahirkan di kota Solo, Jawa Tengah pada 7 November 1935. Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik di Solo. Selain itu, ayahnya bekerja sampingan sebagai dramawan tradisional. Ibu rendra lain lagi. Ia seorang penari serimpi di keraton Majapahit.

Rendra menghabiskan masa kecil dan masa remaja di kota kelahirannya. Ia memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA, Rendra pergi ke Jakarta untuk bersekolah di Akademi Luar Negeri. Namun, Tuhan berkehendak lain. Akademi tersebut telah tertutup. Akhirnya, Rendra memutuskan untuk ke Yogyakarta dan berkuliah di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gajah Mada (UGM). Meskipun, ia tidak sempat menyelesaikan kuliahnya, tetapi ia tidak pernah berhenti belajar. Pada tahun 1954, Rendra mendapatkan beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Di sanalah, ia memperdalam pengetahuannya di bidang drama dan tari di Amerika. Ia juga berkesempatan mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Sebenarnya, bakat sastra Rendra sudah terlihat ketika ia masih duduk di bangku SMP. Ketika itu, ia telah mampu menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerpen, maupun drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, Rendra juga hebat di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya dan juga merupakan pembaca puisi yang sangat piawai. Ia pertama kali mempublikasi puisinya di majalah Siasat pada tahun 1952. Setelah itu, puisi-puisinya terus-menerus menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut hingga pada majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia masih SMP dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu, ia sudah duduk di bangku SMA. Penghargaan itu membuatnya semakin bergairah untuk terus berkarya.

Prof. A. Teeuw, didalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), tidak memasukkan Rendra sebagai penyair angkatan 45, angkatan 60-an, atau angkatan 70-an. Karya-karya Rendra menyiratkan bahwa ia memiliki kepribadian dan kebebasan sendiri. Sebenarnya, Rendra mendapat pengaruh besar dari penyair Spanyol yang bernama Frederico Garcia Lorca. Bukan hanya Rendra, tetapi juga penyair-penyair di tahun 1950-an kebanyakan mendapat pengaruh besar dari Lorca yang dibawa oleh Ramadhan K. H. ke Indonesia dalam karya-karyanya. Karena sangat mengagumi Lorca, Rendra mengidentikkan penulisan namanya dengan nama F. G. Lorca dengan W. S. Rendra.

Rendra diakui sebagai penyair terbesar pada periode 1950-an. Ada tiga jenis puisi Rendra, yaitu pusi romantik (ditulis tahun 1950 sampai 1960), puisi protes sosial (Blues untuk Bonnie, 1971; Potret Pembangunan dalam Puisi, 1978; dan Orang-Orang Rangkasbitung, 1996), serta puisi-puisi renungan hidup (Disebabkan Karena Angin, 1997). Puisi-puisi romantiknya lembut, manis, dan alami, dikumpulkan dalam Empat Kumpulan Sajak (1961), Ballada Orang-Orang Tercinta (1957), dan Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972). Empat Kumpulan Sajak terdiri atas 4 bagian, yaitu “Kakawin-kawin”, “Malam Stanza”, “Nyanyian dari Jalanan”, dan “Sajak-Sajak Dua Belas Perak”. “Kakawin-kawin” mengisahkan masa pacaran sampai perkawinan Rendra dengan Sunarti Suwandi (yang dipanggilnya dik Narti). Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahakan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

Professor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang menaruh perhatian terhadap kesusastraan Indonesia, merupakan salah seorang yang membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974)”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957-1972): Ein  Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag Von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Rendra juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995). Untuk kegiatan seninya, Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan kebudayaan , Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976); Penghargaan Adam Malik (1989); The S.E.A. Write Award (1996); dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Pada tahun 1961, sepulangnya dari Amerika Serikat, Rendra sempat mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia kembali lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1968, ia kembali membentuk grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal dan masih berdiri hingga sekarang.

Di balik semua kesuksesan Rendra, tentu ada sosok wanita hebat di belakangnya. Rendra juga seorang pria biasa yang bisa jatuh cinta pada lawan jenisnya. Ia memiliki kisah cinta yang cukup panjang. Di usia 24 tahun, Rendra pertama kali bertemu dengan cinta pertamanya. Wanita beruntung itu bernama Sunarti Suwandi. Wanita inilah yang dipanggilnya dengan sapaan Dik Narti di dalam salah satu puisinya yang berjudul “Surat Cinta”. Sunarti adalah seorang penyanyi seriosa terkenal, putri seorang tokoh dan pengasuh acara music di RRI Yogyakarta. Rendra dan menikahinya pada 31 Maret 1959 dan dikarunia lima orang anak, yaitu Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Santa.

Tak berselang beberapa waktu, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, bersedia bergabung di Bengkel Teater. Selain menjadi murid Rendra di bengkel teater, Jeng Sito (panggilan Rendra kepadanya) juga bertugas untuk menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra dan Sunarti. Sunarti juga yang akhirnya mengantar Rendra untuk melamar Sito. Sito pun menerimanya. Namun, tidak cukup sampai di situ karena ayah Sito tidak mengizinkan putrinya yang beragama Islam menikahi seorang pria Katolik. Ternyata hal tersebut bukanlah suatu penghalang yang berarti untuk seorang Rendra. Ia yang pernah menulis litany dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari pernikahannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi sebagai saksinya. Sito kemudian memberikan empat anak kepada Rendra, yaitu Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Pernikahan kedua Rendra dengan Sito mengundang berbagai komentar sinis. Rendra dianggap masuk Islam hanya karena ingin berpoligami. Tapi, Rendra menanggapinya bahwa ketertarikannya pada Islam sudah lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kaidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Ia juga menambahkan bahwa Islam dapat menjawab menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini, yaitu kemerdekaan individual seutuhnya. Ia merasa bias beribadah langsung kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Ia merasa hak individunya dihargai. Ia juga mengutip pernyataan dari ayat Al-Quran bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Tidak sampai disitu saja cobaan yang harus dihadapi Rendra ketika mengarungi bahtera rumah tangga dengan kedua istrinya. Ia juga dituduh haus popularitas. Tapi, ia selalu bisa menanggapi dengan ringan. Seperti saat ia menjamu rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, “Itu Rendra! Itu Rendra!”. Sejak saat itulah, julukan Burung Merah melekat padanya hingga kini.

Kisah cinta Rendra tak cukup hanya berlabuh pada dua hati, yaitu Narti dan Sito. Si Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Suraida sebagai istri ketiganya. Ken memberinya dua orang anak, yaitu Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Namun, pernikahan itu membuahkan perceraian di antara Rendra dengan Sitoresmi pada 1979 dan Sunarti pada tahun 1981.

Terlepas dari segala kisah cinta Rendra yang begitu panjang dan berliku, Rendra tetaplah seorang ‘Burung Merak” yang selalu memesona dengan semua karya-karya sastranya yang telah mendunia. Pada 6 Agustus 2009, Rendra akhirnya meninggal dunia. Meskipun kini raganya tak lagi menginjak bumi, tetapi karya-karya seorang Rendra akan terus membumi dan dikenang sepanjang zaman di Indonesia maupun di mata dunia.

Referensi:

Anonim. 2009. Biografi W. S. Rendra, (online). (http://gudang-biografi.blogspot.com diakses pada 4 November 2012).

Anonim. 2009. WS Rendra dan Sajak Sebatang Lisong, (online). (http://nusantaranews.wordpress.com diakses pada 4 November 2012).

Anonim. 2012. W. S. Rendra, (online). (http://id.wikipedia.org/wiki/W._S._Rendra diakses pada 4 November 2012).

Asrofi. 2009. Profil W. S. Rendra, (online). (http://asrofi.web.id/profil-ws-rendra diakses pada 4 November 2012).

Waluyo, Herman. 2003. Apresiasi Puisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tugas VI Apresiasi Puisi Indonesia

Keluhan Malam

Di bawah terpaan cahaya sang ratu malam

Ku tatap sendu parasmu

Tatap mataku memerah menahan bergumpal-gumpal air mata!

Sejujurnya ingin ku berontak, berteriak sampai urat leherku putus

Aku tahu kau benci jua jarak itu

Tapi memohon pun, jarak itu tetap membentangkan merahnya

Akh!

Aku benci harus mengecap pahitnya perpisahan

Aku benci harus pasrah merelakanmu mengejar asa tanpaku

Aku benci harus memeluk sepi

Dan aku benci

Karena aku harus menelan bulat-bulat kesendirian itu

Tegar

Ku berlari dan terus berlari

Panas hujan telah ku lalui

Luka dalam itu sudah kubalut dengan perban ketegaran

Ku teruskan berlari

Hingga bayangmu tak terlihat lagi

Di curah masa lalu yang mulai memutih

Kemarin aku berlari dengan kepala tertunduk

Hari ini ku tengadahkan wajah dan memelankan langkahku

Aku telah sanggup menatap matahari dengan kedua bola mataku

Aku tak takut lagi menyapa hari demi hari tanpa dirimu

Pernah kau coba merayuku dari balik awan

Tapi aku sudah berbeda

Aku tidak mau kamu lagi

Tugas V Apresiasi Puisi Indonesia

Lima Tahun Silam Saat Hujan Turun

Lima tahun silam

Hujan mempertemukan kita.

Di sudut jalan.

 

Hujan membasahi raga dan bumi.

Aku menatapmu, kamu menatapku.

Dalam malu kita berbagi beribu cerita.

 

Di sudut jalan,

Kita mengikat hati seiya sekata,

Berikrar takkan khianat.

 

Lima tahun silam

Tak ada bedanya sekarang

Aku dan kamu masih dinaungi hujan,

Langit yang sama,

Hanya saja tak lagi di sudut jalan.

 

Menunggumu

Orang bilang menunggu itu hal yang paling melelahkan

Orang bilang menunggu itu hal yang paling membosankan

Orang bilang menunggu itu hal yang paling mengesalkan

 

Banyak orang berkesah tentang penantiannya,

Aku pun begitu.

Banyak orang sakit hati karena kecewa oleh penantiannya,

Aku pun begitu.

 

Berpuluh, beratus, bahkan beribu goda

Memancing dan menaklukan tembok pendirianku.

Namun ternyata hatiku lebih berkeras,

Keyakinan akan dirimu memaksa dan berontak

Untuk tetap setia, untuk tetap menunggumu….

Tugas IV Apresiasi Puisi Indonesia

1)      Analisalah dan berikan alasan mengapa puisi “Surat Cinta” karya W. S. Rendra termasuk aliran romantisme?

Jawaban:

Surat Cinta

Kutulis surat ini

Kala hujan gerimis

Bagai bunyi tambur mainan

Anak-anak peri dunia yang gaib

Dan angin mendesah,

Wahai, dik Narto

Aku cinta padamu!

 

Ku tulis surat ini

Kala langit menangis

Dan dua ekor belibis

Bercintaan di dalam kolam

Bagai dua anak nakal

Jenaka dan manis

Mengibaskan ekor,

Serta menggetarkan bulu-bulunya.

Wahai, dik Narti, Kupinang kau menjadi istriku!

 

Kaki-kaki hujan yang runcing

Menyentuh ujungnya di bumi.

Kaki-kaki cinta yang tegas

Bagai logam berat gemerlapan

Menembus ke muka

Dan tak kan kunjung diundurkan

…………………………………..

Engkau adalah putri duyung

Tawananku.

Putri duyung dengan suara merdu lembut

Bagai angin laut,

Mendesahkan bagiku!

Angin mendesah

Selalu mendesah

Dengan ratapnya yang merdu.

 

Engkau adalah putri duyung

Tergolek lemas

Mengejap-ngejapkan matanya yang indah

Dalam jaringku

Wahai, putri duyung,

Aku menjaringmu

Aku melamarmu.

 

Kutulis surat ini

Kala hujan gerimis

Kerna langit

Gadis manja dan manis

Menangis minta mainan

Dua anak lelaki nakal

Bersenda gurau dalam selokan

……………………………….

Menurut saya, puisi “Surat Cinta” karya Rendra termasuk ke dalam aliran romantisme karena melambangkan beberapa ciri-ciri aliran romantisme. Puisi Rendra berhasil mendeskripsikan perasaan cintanya kepada seorang wanita dengan kata-kata yang sentimental, menyentuh perasaan, dan melebih-lebihkan keadaan yang sesungguhnya. Hal tersebut dapat dibuktikan jika kita memerhatikan kata-kata di setiap larik maupun bait puisi “Surat Cinta”. Perhatikan kata-kata di bait pertama, bait kedua, dan bait terakhir! Ada klausa yang berbunyi “kutulis surat ini kala hujan gerimis”. Sebenarnya hal yang penyair  maksudkan adalah sebuah puisi, tetapi ia menggantinya dengan kata-kata surat agar seolah-olah penyair sungguh-sungguh menyatakan perasaannya kepada sosok wanita tersebut. Penyair juga menambahkan frasa “kala hujan gerimis” untuk lebih mendramatisasi keadaan. Walaupun pada kenyataannya, pada saat ia menulis puisi tersebut, bukan pada saat hujan gerimis. Hal tersebut dimaksudkan untuk “memperindah” kata-kata di dalam puisi tersebut.

Penggunaan kata-kata yang mengandung makna melebih-lebihkan pun terdapat di hampir seluruh larik pada setiap bait. Perhatikan kata-kata “Dan angin mendesah” pada bait pertama. Secara logis, tidak mungkin angin akan mendesah layaknya manusia. Pada bait ketiga pun terdapat klausa “Kaki-kaki hujan yang runcing menyentuh ujungnya di bumi” dan “ putri duyung dengan suara merdu lembut bagai angin laut, mendesahkan bagiku!”. Puisi beraliran romantisme, khususnya puisi “Surat Cinta” ini, sarat akan penggunaan gaya bahasa seperti personifikasi, hiperbola, maupun simbolik. Puisi ini mengganggap penting penggunaan gaya bahasa tersebut agar keestetikaannya lebih dapat terasa oleh pembaca.

2)      Carilah puisi lain yang beraliran romantisme!

Jawaban:

Padamu Jua

Karya: Amir Hamzah

Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu.

 

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai pulang perlahan

Sabar, setia selalu.

 

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa.

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata mernagkai hati.

 

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas.

 

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai.

 

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu- bukan giliranku

Mati hari – bukan kawanku ….

 

3)      Tulislah sebuah puisi berdasarkan aliran sastra yang Anda anut!

Jawaban:

Aliran sastra yang saya anut adalah aliran ekspresionisme. Saya lebih suka menggunakan kata-kata “Aku” dalam puisi saya yang merupakan ciri-ciri ekspresionisme. Saya suka mengungkapkan atau mengekspresikan perasaan saya melalui kata-kata dan mengungkapkan kenyataaan secara subjektif, yaitu berdasarkan sudut pandang dan langsung berasal dari batin saya.

Semalam

Semalam ada tawa

Tawa penuh tangis

Aku menangis di hadapan sang lilin

 

Sesekali api berjoget kiri ke kanan

Aku teringat aku yang lalu, sekarang, nanti

Oh Tuhan… Aku tersentak, tercekik dosa

 

Lilin sesenti benderang di gubuk

Menerangi nenek dan kakek tua

Pastilah jauh lebih baik dari seluruh jiwa ragaku

 

Semalam

Aku bercerita dan mengaku pada sang lilin

Aku jauh dari Sang Maha Pengampun

Aku hitam, terlumuri dosa-dosa

Sesak, sesal bergumpal di dada

 

Aku menangis, menangis lagi, hatiku berontak

Berteriak sinis, telah kuperingati kau

Lilin lalu menepuk pundakku

Lirih berbisik, kau selalu bisa putih, sujudlah

 

Semalam ada tangis

Tangis untukMu,

Sang Maha Penerang, benderang daripada sang lilin.

 

4)      Tulislah sebuah puisi yang bertolak belakang dari aliran sastra yang Anda anut!

Jawaban:

Puisi di bawah ini merupakan karya saya yang bertolak belakang dari aliran sastra yang saya anut, yaitu ekspresionisme. Puisi di bawah ini beraliran impresionisme. Aliran ini mengungkapkan kenyataan yang tidak hanya digambarkan apa adanya, tetapi juga menimbulkan kesan yang terkandung dalam pikiran, perasaan, dan kesadaran seorang penyair.

 

Matahari

Teruntuk Ibunda Tercinta

Semesta jagat raya memujamu

Tiada daya hidup tanpamu

Perjuangan mengandung sembilan bulan

Oh Ibu ….

 

Cinta kekasih berbatas sepanjang galah

Kasihmu tak mengenal lelah, sepanjang jalan

Kau susuri bertabur senyum ikhlas

Oh Ibu ….

 

Kau bawa surga di telapak kakimu

Hilang arah buah hatimu, tak selamat tanpamu

Oh Ibu ….

 

Pun ku berikan seluruh isi bumi

Takkan pernah terbalas setetes air susumu

Kau adalah matahariku

 

Oh Ibu ….

Jangan berhenti sinari aku dengan cinta kasihmu

Suci dan murni, hingga akhir zaman

Tugas III Apresiasi Puisi Indonesia

29 September

Seketika awan menggelap

Pertanda rezeki Tuhan akan diturunkan

Sebenarnya bukan tabu

Jujur, hatiku  mengelabu

Dan ketika itu

Tersadar pertanda adalah pertanda

Bahkan sudut mata berkedut

Benar, akan ada tangis

Remuk redam terbaring tak berdaya

Aku menangis, mereka menangis,

Kamu meringis perih

Oh, jalan Tuhan….

 

Mungkin

Mungkin memang jarak jurang pemisah

Mungkin memang waktu lautan pembatas

Mungkin kita tak peduli

Yang kita tahu

Kita masih sehati selangkah

Yang kita tahu

Detak jantung, denyut nadi masih senada

Menasbihkan nama orang terkasih

Yang kita tahu

Tak akan pernah Cinta terpisah jarak dan waktu

Raga boleh berpisah, mata boleh dibutakan

Namun, hati tak akan pernah berpaling

Tugas II Apresiasi Puisi Indonesia

Membuat Puisi

Laut dan Kisahku

Tatkala burung-burung berbalik haluan

Kembali ke peraduan asa

Masih bersabar kulitku disengat penguasa siang

Yang perlahan menuju Barat dari tahta megahnya

 

Sering ombak berbisik riuh-rendah padaku

Meremehkan, menguatkanku

Namun ikan murah hatilah yang membawa berita

Niatku mengalahkan tinggi gunung nan hijau

 

Di atas permadani biru Tuhanku

Ku tengadahkan wajahku, memohon belas kasih

Ku kabarkan lewat angin yang menampar-nampar wajahku

Hari ini aku pulang tidak lagi bertangan kosong

 

Senjaku

Ku terawang bayangmu di ujung samudera mendekati pekatnya malam

Yang ku temukan hanya rindu

Ku ciumi jejak-jejak yang kau toreh di tanah basah

Lalu yang ku temui masih rindu

 

Ku protes bulan dan bintang yang sibuk menertawai tangisku

Ku maki matahari pagi ketika mempercepat langkahnya ke ufuk Barat

Haruskah ada pagi dan malam panjang mengantarai senjaku

Mengapa harus bertemu rindu sebelum bertemu senja

 

Ku dapati risauku dalam penantian

Jarak menjadikan harapan bersama hanya sebagai titik-titik

Melukis semburat jingga kemerahan anugerah Sang Maha Pecinta di kaki-kaki langit

Aku rindu kamu, Senja….

Tugas Individu I Apresiasi Puisi Indonesia

1.      Buatlah sebuah contoh pantun yang di dalamnya terdapat nama Anda!
2.      Buatlah sebuah contoh syair!
Jawaban:
1.      Jalan-jalan ke kota Malang,
         Terjal dan licin bikin ngeri.
         Hati siapa yang tak senang,
         Melihat senyuman Ayu Rezky Pratiwi.
Jalan-jalan ke Bengkulu,
Jangan lupa beli petis.
Wanita cantik ada beribu,
Hanya Ayu yang paling manis.
2.      Syair Ken Tambuhan
Lalulah berjalan Ken Tambuhan
Diiringkah penglipur dengan tadahan
Lemah lembut berjalan perlahan-lahan
Lakunya manis memberi kasihan
Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri